Senin, 20 Juni 2011

Bahkan Pekat Pun Kalah...

Senja memerah di laut yang tenang itu. Bulir-bulir cahaya halus merah jingganya memantul di atas laut. Angin berhembus lembut menyibak rambut ikal Rihan yang berdiri di atas dek kapal. Tegap punggungnya menghadap matahari yang bersiap-siap untuk istirahat. Ia tersenyum.

Sepertinya baru kemarin sore dia beranjak dari situ untuk mengamati pemandangan yang selalu membuatnya berdecak kagum. Tapi, itu dulu 6 tahun yang lalu ketika ia lulus sekolah menengah atas. Ketika ia langsung bersuka cita meminjam kapal kecil milik pamannya untuk terburu-buru menuju ke laut. Ya, siapapun tahu, keluarganya bahkan sedesa pun tahu bahwa Rihan suka sekali menuju ke tengah laut untuk bercerita kepada sang ayah.

“Ayah, Rihan keterima beasiswa kuliah di luar negeri!!!!” teriak Rihan pada laut saat itu. Angin berkesiut pelan. Siang hari udara di laut sangat panas. Tapi, Rihan tidak peduli. Ia bahagia bisa bercerita dengan ayahnya yang meninggal mengenaskan di laut. Ayahnya sendirian waktu itu setelah melaut semalaman, ingin pulang menuju daratan. Di tengah laut, tiba-tiba hujan turun deras sekali, petir bergulung-gulung pun ombak juga begitu di lautan. Kapal ayahnya terhempas ombak yang kuat sehingga terbalik. Ayahnya terlempar jauh ke dasar laut. Keesokan harinya teman-teman sesama pelayan berusaha mencari ayahnya, tapi yang ditemukan hanya kapal yang sudah rusak oleh hantaman ombak. Berminggu-minggu penduduk kampung berusaha mencari ayahnya tapi hasilnya nihil. Hingga sebulan setelah itu ayah Rihan dianggap hilang ataupun wafat di laut.

Akan tetapi, Rihan kecil menganggap ayahnya hanya pergi sebentar. Ia akan kembali suatu hari nanti. Kembali menemaninya bercerita di siang hari setelah ia pulang sekolah. Mungkin ayahnya tinggal di laut bersama para ikan yang lucu-lucu dan menggemaskan. Bukankah hari pada ayahnya pergi ke laut ia berjanji untuk segera pulang agar keesokan harinya bisa mengajarinya untuk menyelam, melihat keindahan alam bawah laut.

Dan kini, Rihan berdiri seorang diri di atas dek kapal. 6 tahun ia meninggalkan kampung halaman, melanjutkan kuliah di luar negeri. 6 tahun itu pula ia tidak melihat ibunya dan kampung halamannya. 6 tahun pula ia tidak bisa bersua dengan ayahnya, menyapanya di atas laut seperti biasanya, menunggu senja turun dan baru kembali pulang. Tapi, 6 tahun tak menghilangkan raut wajah bercahaya ayah dalam hatinya.

“Ayah, Rihan sudah kembali,” bisiknya lirih. Ia yakin ayah mendengarnya.

“Rihan sudah jadi sarjana sekarang. Coba Ayah lihat, pasti Ayah bangga. Rihan pulang kampung sebentar, nengokin Ibu di rumah. Sebulan lagi Rihan pamit, balik lagi untuk penelitian di bawah laut. Rihan sering ke bawah laut Yah sekarang. Kapan bisa bareng Ayah lagi?” akhir tanyanya menggantung. Angin berkesiut pelan, seolah-olah ikut menemani Rihan di situ.

“Yah, Rihan ma...” belum selesai kalimatnya ponsel di kantong celananya berbunyi. Rihan berdesah sebal. Huhh.

“Assalamu’alaikum Rihan di mana Nak?” ibunya yang menelepon.

“....” Rihan mendesah saja. Ia yakin ibunya pasti sudah tahu.

“Pulang Nak, gak baik di tengah laut sekarang.” Lanjut ibunya. Tuh kan benar.

“Udah maghrib, sholat dulu Rihan.” Kata ibunya lagi.

“Iya Bu, Rihan sekarang pulang. Ibu sholat maghrib aja dulu. Tar Rihan sholatnya.”

JJJ

Jam dinding kuno di ruang tamu rumah berdentang tiga kali. Saat itu dini hari bulan November. Angin malam berdesir, dingin. Rihan terbangun dari tidurnya karena selimutnya yang tersingkap. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Diliriknya jam tangan ayah yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Pukul 3 lebih 5 menit.

Tiba-tiba ia merasa harus buang hajat. Rihan bangun dari tempat tidurnya dengan malas-malasan karena matanya masih lengket. Setelah buang hajat, Rihan kembali ke kamarnya, ia melewati kamar ibu. Pintunya terbuka. Rihan penasaran, ia melongok ke kamar ibunya.

“Ya Rabbi, bimbing Rihan dalam jalan-Mu. Jangan buat ia jauh dari-Mu. Hamba menyayanginya ya Allah. Kalaupun sekarang dia sudah menjadi sarjana, jadikanlah sarjana yang taat juga kepada-Mu ya Allah. ” Lirih ibu berdoa. Rihan mendengarnya dan tersenyum sinis. Apa yang salah dariku? Ibu ini sok tau, tau apa Ibu soal jadi sarjana. Huh, kolot! Rihan ngeloyor pergi ke tempat tidur.

JJJ

“Ayah, Rihan sekarang jauh sama Ibu. Ibu beda banget. Lebih kolot, nggak kayak dulu. Sholat aja disuruh 5 kali. Huhh.” Sore itu Rihan kembali ke tengah laut dengan kapal yang khusus disewanya selama ia berada di kampung halamannya.

Rihan ingat betul do’a ibu yang ia dengar semalam. Huh, tau apa ibu soal pendidikan. Toh kalaupun aku jadi sarjana seharusnya ibu bangga. Tidak usahlah dipermasalahkan yang seperti itu, harus sholat 5 waktulah, atau disuruh pergi ngaji ke masjid, toh aku pun masih jadi orang baik, sarjana pula. Hhh, ada pedih dalam dada Rihan. Batinnya berisik sendiri mengenang sikap ibu terhadapnya. Jujur, ia rindu pada ibunya. Siapa lagi di dunia ini yang ia punya kecuali ibunya. Sedesa ini tidak ada orang yang bertalian darah dengannya. Karena dia anak tunggal dan dulu ayah ibunya merantau jauh ke kampung ini.

Hmm, tapi tidak ada salahnya juga sih nurutin apa kata ibu. Bisik batin Rihan yang lainnya. Apa salahnya sebulan itu untuk berbakti sama ibu, toh belum tentu aku bisa balik ke kampung lagi dalam waktu dekat karena terkejar deadline penelitian bersama tim universitasku. Hmm, be good boy Rihan. Bisik malaikat dalam hati Rihan.

“Ayah, mungkin aku yang kaget dengan sikap Ibu...” akhirnya kata-kata itu terlepas dari mulut Rihan. “Aku lupa, dulu Ayah juga suka jewer kupingku kalau aku nggak mau sholat. Hahahaa luar negeri mencerabut jiwa ketimuranku Yah, hmm lebih tepatnya kereligiusanku.” Lanjut Rihan mulai curhat lagi pada laut, pada ayahnya.

“Ayah...!!!” teriak Rihan. “Ibu kangen Ayah, cepat pulang ya... Aku juga kangen Ayah...!!” Rihan melanjutkan teriakannya.

Hening. Laut sepi. Hanya desau angin laut sore menemani Rihan menikmati cahaya halus merah jingga matahari yang memantul di atas permukaan air laut.

JJJ

Heh, Rihan kapan lw balik ngampus? Jangan keenakan pulkam woiii!! Gw sendirian neh di sini. Buruan pulang!!! Ayoo gawe penelitiaannn!! Udah ditunggui profesor Alfred!! Oya jangan lupa bawa oleh-oleh khas kampung lw buat gw!! Wajib!!

Satu email masuk ke ponsel Rihan. Taufik. Dia teman sejurusan dengan Rihan yang dari Indonesia, lebih tepatnya dari Jakarta.

Rihan nyengir membaca email Taufik. Ya baru sekali selama kuliah Rihan pulang ke kampung halaman. Setelah lulus lebih tepatnya karena biaya pulang pergi sangat mahal untuk mahasiswa biasa seperti Rihan. Sementara itu, Taufik nyaris setahun sekali pulang ke Indonesia, apalagi tiap summer holiday. Taufik termasuk orang kaya, bapaknya pengusaha minyak dan kayu di Kalimantan.

JJJ

Rihan sedikit kelabakan untuk penelitiannya kali ini, walaupun Rihan sudah mempersiapkannya matang-matang, tapi toh tetap saja berbeda. Pasalnya, baru kali ini dia ditunjuk sebagi asisten Profesor Alfred. Profesor yang terkenal disiplin dan teliti sefakultasnya. Beliau sangat menghargai ilmu pengetahuan. Sudah menjadi maklum dan termasuk bergengsi para mahasiswa yang bisa ikut dalam tim penelitiannya. Apalagi menjadi asisten Profesor?!

Penelitian ini akan mempelajari gelombang laut di dalam bawah laut. Profesor Al – begitu biasa beliau dipanggil – sangat ingin segera tahu hasil penelitian tersebut. Jauh-jauh hari beliau mempersiapkan bahan-bahan dan materi yang berhubungan dengan penelitian ini.

Untuk penelitian itulah, tim Alfred akan – dan harus – terjun ke bawah laut. Tentu saja mereka akan berada di dalam kapal selam yang dilengkapi dengan laboratorium penelitian. Mungkin beberapa hari mereka akan berada di bawah laut, dalam kelamnya dunia di bawah sana.

Kapal selam canggih yang dipakai oleh tim Al kali itu memang keluaran terbaru. Prof Al jauh-jauh hari telah mengajuk proposal kepada pemerintah untuk memberikan bantuan. Kapal selam tersebut dilengkapi lampu cahaya yang berenergi kuat. Sehingga di kedalaman 2000 meter yang gelap, kapal selam tersebut bisa menerangi 2 km daerah di sekitarnya. Nama kapal canggih itu Alfred Mermaid.

Terkadang, jika Rihan sedang jenuh-jenuhnya dengan penelitian ia melihat pemandangan yang luar biasa indah di luar sana, hmm ataupun terkadang luar biasa mengerikan. Seakan-akan ia adalah makhluk kecil berada di dalam akuarium besar melihat makhluk-makhluk yang jarang bisa dilihat manusia pada umumnya. Mereka adalah ikan-ikan besar yang sesuai dengan habitat laut dalam. Mempunyai sensor sensitif terhadap gempa. Jadi, tidaklah mengherankan jika beberapa hari sebelum gempa besar terjadi di dalam laut, banyak ikan bawah laut yang mengungsikan dirinya ke atas permukaan laut, hingga terkadang mereka malah terdampar sampai ke pantai.

Rihan memandang laut. Keheningan yang ia rasakan, kekhusyukan menikmati pemandangan laut dalam tersebut. Tiba-tiba ia teringat ayahnya.

“Apa kabar ayah di sana?” sapa Rihan pada dinding kaca AM yang tebal. “Rihan sekarang di bawah laut untuk penelitian. Rihan pengen nyelam Yah kalau bisa, tapi sampai sekarang belum kesampaian.”

Tiba-tiba pula bayangan ibu berkelebat di pelupuk matanya.

“Udah sholat belum Rihan sayang?” tanya ibunya lembut dengan panggilan sayangnya. Rihan terkesiap.

Astaghfirullah. Betapa selama berhari-hari ini Rihan jarang sholat, itupun kalau ingat. Penelitian kali ini benar-benar menguras waktu Rihan. Padahal, selama kurang lebih sebulan di kampung halaman, ia rajin menjadi imam ibunya. Dalam hati ia meminta maaf pada ibunya, juga pada Allah. Aih, Rihan meringis dalam hati, apakah orang yang jarang sholat ini pantas mengimami Ibu yang rajin sholat? Dosa apa aku nanti... Rihan jadi berpikir tentang itu.

Rihan menarik nafas panjang kemudian menghelanya pelan-pelan. Oke, sekarang mumpung lagi istirahat sholat aja. Pikir Rihan. Ia berbalik langkah. Ketika itu pula, dering sinyal warning, tanda kapal selam dalam bahaya berbunyi kencang ke seluruh Alfred Mermaid. Lampu dalam AM berkedap-kedip.

Rihan berlari menuju laboratorium praktikum. Teman-temannya juga panik bukan buatan. Kapal selam goncang. Mereka semua terjatuh, tapi ada beberapa juga yang sempat berpegangan pada benda-benda kokoh di sekitar mereka.

Pett. Tiba-tiba lampu kapal selam mati. Kepanikan makin menjadi. Dan kapal selam belum diam, ia masih terkocok-kocok dalam pekat kelamnya laut bawah.

Dari mikrofon pengumuman nahkoda kapal selam memberitahukan bahwa ada getaran gelombang dahsyat dalam laut bawah, nahkoda pun juga memberitahukan dengan suara yang tidak jelas karena tubuhnya juga berusaha menyeimbangkan diri di atas kapal selam yang tidak stabil. Diharapkan agar para penumpang kapal untuk segera memakai peralatan emergency. Spontan para penumpang kapal selam berebutan lari menuju tabung-tabung emergency, bahkan mereka memakainya secara terburu-buru.

Tiba-tiba kapal selam kembali diam, getaran gelombang sudah tidak terasa lagi. Semua bernafas lega. Namun, itu hanya bertahan sebentar. Dan ketika itu juga...

Whussshhh... whushhss... whushhs... whuuuushhh...

Gelombang laut yang dahsyat menerpa Alfred Mermaid. Para penumpang terjatuh bahkan terpelanting ke sembarang arah, terantuk meja dan kursi, terbentur ubin kapal, terjerembab ke dalam tumpukan kertas-kertas praktikum yang jatuh berserakan. Krekk. Dinding AM yang tebal retak. Para penumpang kapal selam yang semuanya laki-laki dari berbagai bangsa itu panik melihatnya bagai melihat gunung meletus di depan mata.

Krekkk.

Dinding kaca kapal selam retak lagi. Tapi itu belum sampai air laut bisa memasukinya. Mereka sedikit bernafas lega, walaupun mereka masih terombang-ambing tak karuan.

Hingga...

Kreekk. Kretekk. Kretekk.

Dinding kaca kapal selam di sekitar mereka mulai retak satu persatu. Mata-mata para penumpang membelalak cemas.

Krekk. Blarrr... Byurrr...

Bagaikan air bah, air laut itu dengan sukarela tanpa permisi menyerbu habis-habisan Alfred Mermaid. Membongkar semua dinding-dinding Alfred Mermaid tanpa kecuali. Meluluh lantakkan kertas-kertas, meja, kursi, juga baju emergency. Membungkam semua mulut yang kepanikan meminta tolong.

Manusia-manusia Alfred Mermaid berserakan di sekitar pusaran gelombang laut yang masih menggila. Termasuk Rihan. Ia terombang-ambil gelombang dalam laut. Ia bahkan sama sekali tidak memakai peralatan emergency seperti teman-teman tim lainnya yang nasibnya tidak jauh beda dengan dirinya.

Rihan masih sadar, bahkan masih bisa merasakan sakit dan memar di sekujur badannya. Telinganya seakan ingin pecah, tidak kuat dengan tekanan air bawah laut. Rihan tak berdaya untuk menggerakkan badannya, pun tangannya yang ingin diangkatnya, berusaha untuk ke atas permukaan. Tapi, ia lupa bahwa ia tak bisa berenang.

Rihan pasrah. Ia menangis, mengingat bahwa hidupnya akan berakhir di sini, di bawah laut dunia yang kelam dan gelap. Mungkin tak banyak orang yang mengenalnya, tak peduli dengannya. Seumur hidup setelah ia kehilangan ayahnya, baru kali itu ia menangis. Tak ada yang tahu bahwa ia menangis, karena toh walupun air mata itu asin, air laut lebih asin bukan?!

Di ujung kepasrahannya tersebut, bayangan ibunya muncul.

“Rihan sayang, kalau balik kuliah lagi, jangan lupa sholat ya sayang...” lagi, petuah ibunya hanya itu ketika ia pamitan untuk penelitian bersama tim AM. Sholat. Ya, Rihan lupa sebelum terjadi gelombang yang menyerbu Alfred Mermaid ini ia berniat untuk mengerjakan sholat. Tiba-tiba, seperti ada sebuah kekuatan yang menghebat dalam dirinya untuk bergerak menuju ke atas permukaan. Sebisa mungkin, karena Allah akan selalu membantu hamba-Nya kan?

Bismillahirrahmanirrahim. Batinnya berbisik kencang. Ia tidak mau jauh dari Allah. Do’a ibu ketika tahajud – dan ia remehkan waktu itu – terngiang di telinganya. Ya Allah, aku yakin doa ibu yang baik pasti Engkau kabulkan. Rihan berbisik membela diri mengingat segala dosanya selama ini, lebih tepatnya menghibur dirinya.

JJJ

“Ayah, pokoknya Raihan mau ganti nama!!” Rihan kecil mengadu pada ayah di siang bolong setelah mereka makan siang.

“Kenapa Raihan?”

“Pokoknya nggak mau Raihan!! Di sekolah itu ada kakak kelas namanya Raihan juga, terus tadi tuh dia ngancem kalau aku nggak ganti nama mau dikunciin di gudang sekolah.” Rihan yang baru kelas 2 SD itu cerita berapi-api, penuh kemarahan juga ketakutan karena ancaman Raihan sang kakak kelasnya. Ayahnya tersenyum mendengar aduan anak tunggalnya.

“Karena nama Raihan bagus, makanya banyak yang suka.” Ayahnya coba menjelaskan pelan-pelan.

“Nggak mau, pokoknya Raihan nggak mau dikunciin di gudang sekolah.” Kali ini suara Rihan kecil benar-benar ketakutan. Ia membayangkan bahwa ia akan dikunci di gudang sekolah yang sepi dan... Rihan kecil tidak bisa membayangkan kejadian selanjutnya.

“Halah, nggak papa Raihan sayang. Nggak bakal kakak kelasmu itu berani ngunciin kamu,” hibur ayah lagi. Tapi, Raihan tetap ngotot.

“Namamu itu Raihan Firdaus. Artinya bau surga Firdaus. Ayah dan Ibu berharap semoga kamu bisa masuk surga Firdaus, bareng Ayah dan Ibu juga.” Akhirnya ayah menjelaskan filosofi nama Rihan. Sejenak kemudian, kening Rihan kecil seakan berpikir mendengar penjelasan ayahnya. Bagus ya... batinnya saat itu.

“Ya udah...” Rihan akhirnya mengalah. Ayah tersenyum. Ibu yang baru datang dari dapur langsung nimbrung ngomong.

“Nah, biar masuk surga Firdaus tuh harus rajin sholat Raihan sayang. Nggak boleh nakal kalau Ayah ajakin sholat ke masjid, rajin ngaji sama pak Haji di masjid biar baca al-qur’annya bagus pas sholat.” Tambah ibunya.

“Oh jadi gitu ya Yah, Bu kalau mau masuk surga itu?” tanya Rihan kecil polos. Tiba-tiba bayangan gudang sekolah muncul di hadapannya.

“Tapi, Yah, Bu, Raihan ganti panggilan aja ya... Raihan nggak mau dikunciin di gudang sekolah sama bang Raihan yang galak itu..” Rihan kecil merajuk lagi. Ayah dan ibu malah tertawa.

“Iya deh, maunya apa?” ibu yang bertanya.

“Rihan aja Yah, Bu, biar Raihan nggak lupa sama nama asli Raihan.” Jawab Rihan yang disambut tawa oleh ayah dan ibu yang menggema di ruang makan keluarga kecil itu.

JJJ

Rumah Sakit Saint-Paulo.

Rihan mencoba membuka matanya. Berat. Lengket. Namun, karena silau matahari pagi yang menerobos masuk kamar, Rihan membuka matanya juga. Bau obat. Rihan mencoba berpikir di mana ia berada. Klek. Pintu kamar rumah sakit terbuka, seorang perawat masuk ke kamar. Ia tertegun melihat Rihan sudah membuka mata. Perawat itu kembali menutup pintu.

Beberapa saat kemudian perawat itu datang bersama seorang dokter dan seorang laki-laki. Rihan diam, merasa tidak mengenali tiga orang tersebut. Dokter dan perawat segera memeriksa keadaan Rihan.

“Anda bisa bertemu dengannya sekarang Prof,” ujar dokter kepada seorang laki-laki yang tadi masuk bersamanya melihat keadaan Rihan. Dokter dan perawat itu pun pergi.

“Rihan..” panggil laki-laki itu. Rihan masih terdiam, berusaha mengingat siapa laki-laki di hadapannya ini. Sekujur badannya masih sedikit ngilu jika digerakkan. Hanya matanya yang berinteraksi dengan laki-laki berwajah ramah itu.

“Iya tidak apa-apa jika kamu belum mengingat saya. Saya tau, kejadian itu memang dahsyat sekali.” Paparnya. Rihan masih tidak mengerti apa yang dikatakan oleh laki-laki botak dan berambut putih itu.

“Saya tidak mengerti,” ujar Rihan. Laki-laki itu mengangguk penuh pengertian seraya tangannya berusaha untuk menenangkannya.

“Saya mau sholat,” tiba-tiba Rihan teringat begitu saja bahwa ia belum sholat. Laki-laki itu sedikit mengerutkan kening, tapi kemudian mengangguk lagi.

“Apa kamu sudah merasa baikan?” tanya laki-laki itu. Rihan kini yang mengerutkan dahinya. Baikan? Saya sakit apa? Rihan mengangguk. Laki-laki itu tersenyum. Ia pun keluar dari ruangan tersebut.

“Sepertinya dia belum ingat apapun dokter.” Di luar, laki-laki itu berkata kepada dokter yang tadi masuk ruangan tersebut. “Bahkan saya pun tidak diingatnya sama sekali. Saya takut, dia hilang ingatan dokter. Bukankah dia sudah tiga bulan koma? Dan baru hari ini tersadar?” laki-laki itu bercerita dengan sedih.

“Yah, sudah syukur dia tidak apa-apa Prof. Memang masalah amnesia terkadang menyerang orang yang koma. Semoga saja Rihan semakin ada perbaikan ke depannya.” Kata dokter, berusaha menenangkan laki-laki di depannya.

Di dalam kamar Rihan menyimaknya. Ada apa dengan diriku? Rihan berpikir jenak. Namun, kemudian ia merasa bahwa harus cepat-cepat mengerjakan sholat. Rihan pun sholat dhuha dengan isyarat mata.

JJJ

Sudah seminggu Rihan sadar di rumah sakit. Sepenuhnya dia sudah pulih, walaupun masih harus banyak istirahat juga. Pun ingatannya.

Alfred Mermaid memang sebuah mimpi buruk. Bahkan, terkadang Rihan masih terbawa ke alam mimpi. Sampai ia lebih memilih tidak tidur daripada bertemu dengan Alfred Mermaid dalam mimpi.

Alfred Mermaid pecah berserakan karena luluh lantak oleh gelombang bawah laut yang menyerangnya. Untuk kemudian ia membangkai di dalam laut bawah. Bahkan, Profesor Alfred yang membiayai separo dari pembuatan kapal selam Alfred Mermaid menyuruh para petugas yang saat itu datang menanyainya untuk membiarkannya saja. Alfred Mermaid kini membisu jauh di bawah laut sana, menjadi penghuni baru bersama makhluk-makhluk misterius bawah laut.

Hingga kini, Rihan masih tidak percaya bahwa dirinya termasuk 3 orang dari 40 penumpang AM yang selamat dan hidup. Sewaktu nahkoda AM merasakan sesuatu yang tidak baik dari keadaan dalam laut di sekitarnya, ia langsung mengirimkan sinyal SOS kepada petugas di pelabuhan terdekat. Bahkan tidak cukup 1 sinyal, karena paniknya, ia mengirimkan 10 sinyal bahaya atas AM saat itu juga kepada kantor pusat. Firasatnya benar, setelah itu AM diguncang amukan gelombang dahsyat bawah laut.

Sementara itu, di kantor pusat kehebohan terjadi. Helikopter segera dikerahkan agar langsung mencapai TKP (tempat kejadian perkara). Mereka jelas tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada pekerjanya yang di dalamnya termasuk ilmuwan hebat macam Profesor Alfred. Sesampai di sana, 10 helikopter yang diutus ke sana terpaksa mengalah dengan ombak yang menggila naik ke atas permukaan laut hingga 7 meter. Tsunami kecil sedang terjadi di dalam lautan tempat Alfred Mermaid melakukan penelitian. Memang tidak mengguncang pulau-pulau di sebelahnya, tapi cukup membuat mabuk hingga sekarat makhluk-makhluk di bawah laut.

Tsunami kecil itu benar-benar mereda 3 jam kemudian. Para petugas tim SAR yang diutus baru mulai berani mencari korban ke dalam laut. Hingga akhirnya, penyusuran korban dicari. Di antara 40 penumpang AM, yang hilang di laut lebih dari separo : 35 orang; dan 5 orang berhasil ditemukan : 2 sudah meninggal dengan keadaan kondisi badan sudah tidak utuh lagi dan 3 masih ditemukan dengan keadaan hidup yang mengenaskan. Mereka adalah Profesor Alfred, Taufik dan Rihan sendiri.

Keadaan para korban yang selamat sedikit lebih baik, meskipun tidak beda jauh dengan korban yang meninggal. Prof Alfred mengalami luka ringan karena ia sempat menggunakan pakaian emergency, hanya saja beberapa jari di tangan kirinya terputus ketika terkena gelombang. Taufik tidak mengalami luka yang berarti, hanya saja kondisi psikisnya yang bermasalah, ia terkena trauma berat, sampai sekarang ia pun masih trauma jika mendengar suara air laut, meski itu di televisi. Sementara Rihan sendiri babak belur parah di sekujur tubuh, kupingnya juga sedikit bermasalah dan sempat tidak bisa mendengar sama sekali, ia juga mengalami amnesia sesaat selama 2 bulan.

JJJ

2 bulan yang membosankan di rumah sakit bagi Rihan. Ia harus menjalani perawatan agar ia sembuh total dan bisa beraktivitas seperti biasa. 2 bulan yang membuatnya semakin dekat dengan Prof Alfred. Lukanya memang tidak seserius Rihan ataupun Taufik, makanya sebagai ketua tim peneliti Alfred Mermaid, ia seolah-olah memiliki tanggung jawab untuk merawat 2 anak buahnya yang masih hidup dan terkapar parah di rumah sakit.

“Saya tidak tahan lagi di rumah sakit, Prof,” ungkap Rihan. Prof Alfred tersenyum.

“Tapi, bukankah dengan di rumah sakit kamu bisa leluasa melakukan sholat 5 waktu?”

Rihan tersentak dengan lontaran Profesornya. Belum sempat hilang kekagetannya akan jawaban Prof Al, ia melanjutkan lagi.

“Lagipula yang saya herankan adalah, kenapa yang selamat adalah kamu, Rihan juga Taufik. Dan saya juga tentunya. Tapi, kalian berdua kan muslim....”

Maksud Prof Al...? Rihan bertanya dalam hati.

“40 orang penumpang AM. Dan hanya kalian berdua yang muslim dan kalian selamat. Yang saya herankan, kenapa saya juga. Bukankah saya tidak muslim...?” Prof Al seakan-akan berbicara kepada dirinya sendiri, mengulang perkataannya tadi. Rihan diam menyimak, berusaha meraba topik pembicaraan yang digulirkan lelaki tua di depannya.

“Ah, sudahlah... lupakan itu. Minggu depan keluarga Taufik akan membawanya pulang ke Indonesia. Keluarganya lebih senang merawatnya di Indonesia. Taufik yang malang, semoga ia cepat sembuh.” Kata Prof Al. Ya, semoga Taufik cepat sembuh dari trauma AM. Bisik Rihan mendoakan sahabatnya.

“Apakah kamu tidak mempunyai keluarga di Indonesia Rihan?” tanya Prof Al.

“Ibu... Ayah...” lirih Rihan.

“Saya ingin segera pulang Prof.” Ujar Rihan. Prof Al tidak terkejut. Ia mengangguk penuh pengertian.

“Ibu saya belum tahu tentang apa yang terjadi pada saya. Saya sudah terlalu lama dan terlalu jauh meninggalkan Ibu di sana seorang diri tanpa teman.” Lanjut Rihan. Prof Al mengerutkan keningnya, sedikit berpikir.

“Bukankah kamu sering bercerita pada saya tentang Ayahmu. Ia bersama Ibumu bukan di Indonesia?” tanya Prof Al. Rihan tidak menjawabnya.

“Prof saya ingin segera pulang untuk berbicara pada Ayah saya. Saya rindu Ayah saya Prof..” ujar Rihan tidak menjawab pertanyaan Prof Al.

JJJ

Bola raksasa itu menyembul dari balik biru langit lazuardi yang seakan menyatu dengan hamparan laut. Perlahan ia merangkak naik memamerkan cahaya emas merahnya. Menyinari perlahan bumi di pagi hari. Terpantul bayangannya di atas laut yang sesekali robek karena ditingkahi riak ombak laut pagi hari.

Rihan berdiri di atas kapal. Bukan senja yang kini ia tunggu. Ia ingin melihat matahari terbit terakhir kali bersama ayah di laut.

“Ayah, sudah 6 bulan aku tidak berjumpa denganmu. Sudah 6 bulan juga aku meninggalkan Ibu. Aku mengalami hal yang nyaris merenggut nyawaku. Jikalau aku mati saat itu, aku nggak tau apakah aku khsunul khatimah atau bukan. Karena saat itu aku belum sholat Yah. Kalau Ayah dan Ibu tau pasti sedih ya... Maafin Rihan Yah..” cerita Rihan kepada angin laut yang berdesau.

“Yah, sekarang akan kujaga Ibu sekuat kemampuan aku. Rihan ingin jadi anak yang berbakti untuk Ayah dan Ibu. Semoga Rihan bisa membalas kedurhakaan Rihan selama ini pada Ayah juga Ibu.” Lanjut Rihan lagi.

“Yah, Rihan ke sini pagi-pagi, ingin melihat matahari terbit bersama Ayah. Ayah tahu, setiap kali Rihan pengen ke sini, pasti Ibu marah. Rihan bukannya nggak tau, tapi Rihan nggak mau menyadari kenyataan bahwa Ayah bukan di sini lagi. Astaghfirullahal adziem. Tapi, Yah.. sekarang Rihan ikhlas nggak bisa lagi liat Ayah. Semoga Ayah tenang di sana. Semoga kita sekeluarga bisa bersama mencium bau surga Firdaus, aaamiiin. Assalamu’alaikum Ayahku tersayang..” Rihan mengakhiri perkataannya. Ia membalikkan kemudi kapal untuk pergi ke darat lagi.

Ada sebuah kelegaan yang teramat dalam pada diri Rihan. Ia tersenyum untuk lembaran baru pagi itu. Ada damai menyusup hatinya

JJJ

Tok tok tok.

Pukul 4 shubuh. Pintu rumah Rihan diketuk sesosok tamu. Rihan yang sedang terkantuk-kantuk di mushola rumah mengacuhkan bunyi ketokan pintu rumahnya pada shubuh buta itu.

Tok tok tok.

Kali ini lebih keras. Akhirnya dari dapur ibu berteriak. Ibu punya usaha baru kini yaitu catering makanan yang sudah mulai dilirik banyak orang. Jadi, setiap hari ibu bangun jam 2, setelah tahajud ibu pergi ke dapur untuk bersiap-siap keperluan cateringnya.

“Rihan sayang, itu dibuka pintunya. Kali aja orang yang mau ambil catering Ibu.”

“Ya Allah, Bu rajin bener sih pelanggannya dateng pagi-pagi banget buat ambil catering. Hoahemm..” Rihan bangkit dengan malas-malasan.

Kriet. Pintu terbuka.

Rihan membuka matanya. Ia kaget.

"Silahkan masuk Prof ke rumah saya yang sederhana. Ada apa ya Prof, jauh-jauh dan pagi-pagi sekali ke rumah saya? Hasil penelitian Alfred Mermaid atau bagaimana? Atau ada job baru yang harus segera saya selesaikan? Mungkin tahun depan prof, saya kan sudah mengajukan cuti saya dan itu diterima.” Cecar Rihan.

Prof Al mengeluarkan notes kecil dari sakunya, kemudian ia menyerahkan kepada Rihan. membacanya.

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang diatasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (An-Nur [24]: 40)

“Katakanlah : “AlQuran itu diturunkan (Allah) Yang Mengetahui segala rahasia di langit dan bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Furqan [25]: 6)

Rihan mengernyitkan kening.

“Itu kesimpulan dari penelitian Alfred Mermaid kemarin anak muda...” Prof Al seolah menjawab israyat tanya Rihan. Rihan mengangkat mukanya dengan serius ke arah Prof Al.

“Saya ingin sholat shubuh, Rihan. Tolong ajari saya bagaimana sholat itu. Saya takut tidak sempat lagi sebelum Alfred Mermaid selalu menghantui saya. Saya tidak ingin hati saya pekat sepeti laut bawah tempat AM membangkai saat ini..” suara Prof Al lagi.

“Prof.. prof.. profesor Alfred..?” Rihan seakan tidak percaya. Ya rabbi, jauh-jauh datang ke rumah Rihan untuk menyatakan keislamannya. Subhanallah. Ada embun bening menetes di hati Rihan melihat semangat menyala dalam mata Prof Al.

“Mari Prof, masuk rumah saya...” Rihan segera teringat bahwa mereka berbicara di pintu rumah sambil membantu membawa koper besar Prof Al di sampingnya. Mereka masuk bersama dengan perasaan bahagia tak terkira. Di luar adzan shubuh mulai bergema syahdu.

JJJ

1 komentar:

  1. nice story terharu saya membacanya, karena kadang - kadang kita juga melupakan sholat padahal kita tak tahu kapan ajal menjemput,, ijin copas yah buat arsip saya

    BalasHapus